WANITA BERPUNUK UNTA
Penggunaan model hijab yang semakin berkembang mulai dari motif,
model hingga penggunaannya yang menjulang keatas pada saat ini, memunculkan
istilah baru bagi hijabers sebagai “wanita berpunuk unta”.
Berpunuk unta, kata ini mungkin tidak asing bagi kita, karena kita
tahu bahwa unta memang salah satu hewan yang mempunyai punuk ditubuhnya, lantas
apa jadinya jika istilah ini ditambah dengan kata “wanita”?, atau wanita
berpunuk unta. Kata ini mungkin sangat ambigu bagi kita. karena relasi
makna antara kata “wanita” dengan kalimat “punuk unta” dianggap sesuatu yang
tidak ada hubungannya.
Istilah ini, “wanita berpunuk unta” pada masa kini sudah menjadi
istilah yang sangat populer dikalangan masyarakat, khusunya kaum wanita.
Istilah ini muncul seiring merkembangnya kerudung atau hijab yang biasa dipakai
oleh wanita muslimah. perkembangangan hijab tersebut sangat pesat dengan
berbagai jenis, motif hingga model yang sangat berfariasi. Hingga para wanita
yang memakai hijab dengan model yang sedang berkembang ini di sebut para
hijabers. Namun permasalahannya mengenai fenomena hijabers ini bagi sebagian
kaum wanita muslimah dianggap fenomena yang melanggar ketentuan agama, karena
para hijabers dianggap berlebihan dalam menggunakan sebuah hijab. Seperti yang
di lontarkan Issa, seorang mahasisiwi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam fakultas
dakwah dan komunikasi UINSA surabaya tersebut. Berpendapat bahwa sebenarnya
tidak masalah wanita memakai hijabers, asalkan tidak berlebihan dalam memakai
hijab, seperti yang biasa wanita muslimah sekarang gunakan adalah menumpuk
hijab hingga keatas, karena menumpuk hijab hingga keatas itu tidak baik, dan
bisa menimbulkan efek seperti punuk unta. Begitu juga ikatan rambut yang di
tumpuk hingga menjulang ke atas itu akan menimbulkan efek seperti punuk unta
pula. Menurutrnya agama melarang hal yang demikian.
Senada dengan Issa, Zizi mahasiswi fakultas dahwah dan komunikasi
juga berpendapat bahwa ia tidak setuju dengan para hijabers yang sedang
berkembang saat ini, fenomena hijabers yang sedang berkembang saat ini sangat
tidak baik, ia juga mengatakan bahwa, wanita muslimah tidak diperbolehkan
menggunakan hijab yang dilipat keatas hingga menyerupai punuk unta. Karena itu
dilarang dalam agama. Alasan tersebut bagi Zizi bukanlah tanpa alasan,
menurutnya ada sebuah hadits yang memang melarang hal yang semacam itu. Dan ia
juga menambahkan bahwa berhijab yang syar’i dan sederhana itu tetap menarik,
dan tetap bisa pula berseni di dalamnya.
Berbeda dengan Fryna, mahasisiwi asal Benowo, Surabaya tersebut
lebih menyukai berhijab seperti yang sedang digunakan para hujabers pada saat
ini, ia beralasan bahwa berhijab seperti itu membuat wanita muslimah lebih
anggun, karena model hijab yang berkembang saat ini lebih banyak motifnya dan
membuat dirinya lebih anggun dan lebih percaya diri. Ia juga menambahkan bahwa
berhijab dengan model separti itu akan membuat aura dirinya lebih nampak dan
membuat dirinya menjadi diri sendiri. Berhijab dengan mode yang demikian bagi Fryna akan menggambarkan menjadi
pribadinya sendiri. Sekalipun berhijab seperti itu bagi orang lain dianggap
banyak kesulitan untuk menggunakannya, namun bagi Fryna tidak ada kesulitan
apapun dalam menggunakannya.
Terlepas dari pro dan kontra penggunaan hijab bagi para hijabers
saat ini, memang harus diakui bahwa perkembangan hijab pasa masa sekarang
sangat pesat. Fenomena-fenomena seperti ini tidak terlepas dari perkembangan
industri dan teknologi yang semakin berkembang pula. Sehingga perkembangan
seperti ini membuat manusia khusunya wanita muslimah yang selalu ingin tampil
menarik dan stylist, mencari cara agar wanita muslimah dapat tampil
semenarik mungkin dalam berpenampilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar