Keringat dan Dilema
Lembaga Pers Mahasiswa Ara Aita sudah berumur 33 tahun, sunguh sebuah
perjalanan umur yang cukup panjang. Jika kita analogikan dengan kehidupan rumah
tangga seseorang mungkin sudah beranak-pinak. Lantas pertanyaannya adalah
bagaimana dengan Ara Aita? Apa Ara Aita sudah mencapai target yang
cita-citakan? Jawabannya tentu “belum”. mengapa demikian? karena Ara Aita bukanlah
lembaga yang ingin mencapai target tertentu, Ara Aita hanya ingin memberi wadah
bagi anggotanya yang suka menulis dan menjadikan anggotanya mampu menulis dengan
baik dan benar, maka tidak heran jika proses didalamnya, Ara Aita benar-benar
memberikan edukasi yang mengandalkan tanggung jawab bagi anggotanya untuk
serius dalam berproses di dalamnya.
Tak jarang pula anggota Ara Aita yang tidak tahan dengan proses
yang diberikan, mulai mengeluh dan memilih menghentikan prosesnya di Ara Aita.
ibarat daun yang diterpa angin perlahan mulai berguguran satu-persatu dengan
berbagai alasan, mungkin itulah sebuah seleksi alam. Terlepas dari itu semua,
banyak hal yang bisa kita peroleh sebenarnya dalam suatu proses. dimanapun kita
berproses dan bagaimanapun keadaannya itulah sebuah proses. Secara tidak langsung
pendidikan semacam itu mengajarkan kita untuk lebih dewasa dan bertanggung
jawab. Hal semacam itu memberikan isyarat bagi kita pada kehidupan selanjutnya,
jika nantinya kita sudah lulus dari kuliah yang tentunya banyak dari kita akan
mengarungi kehidupan rumah tangga. Maka kita tidak akan terkejut melihat kehidupan
baru. Karena kita sudah dididik menjadi orang yang tangguh menghadapi berbagai
masalah.
Dalam psikologi komunikasi maupun komunikasi antar pribadi terdapat
sebuah konsep diri agar komunikasi itu berjalan dengan lancar. Maka proses yang
ada di Ara Aita yang di anggap killer, tidak humanis, bahkan cenderung dianggap
tidak sosialis itu sebenarnya memberikan kita sebuah konsep diri. Konsep diri
tersebut akan muncul akibat dari interaksi dan pengalaman yang pernah
dilakukan. Maka jika seseorang lebih memilih untuk bertahan dan menghadapi
berbagai masalah yang timbul, akan mampu menghadapi segala permasalahan yang
datang dikemudian hari.
Bagi mereka yang pernah berproses di Ara Aita dan mampu bertahan
hingga ia lulus kuliah, dapat memetik hasilnya. Banyak alumni dari Ara Aita yang
sudah menjadi seorang jurnalis, seperti Aziz jurnalis DUTA, Rafa jurnalis TEMPO,
Erliyanto jurnalis GAPURA, Taufiq jurnalis Radar Surabaya, Choliq direktur
Radar Mojokerto, Hanbali jurnalis Radar Bankalan dan lain sebagainya.
Sekalipun menjadi seorang jurnalis bukan salah satu tujuan utama,
akan tetapi setidaknya menjadi aktivitas mereka yang positif semasa kuliah. Anehnya,
banyak dari para jurnalis yang ada di LPM Ara Aita bukan berasal dari prodi
yang memiliki orientasi dalam hal keilmuan jurnalistik. Seperti Bimbingan
Konseling Islam (BKI), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Prodi Psikologi dan
Manajemen Dakwah (MD),. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya sumbangsih sebuah
organisasi intra maupun extra yang ada di kampus, memberikan sebuah peran yang
sangat besar terhadap lulusan-lulusannya. Karena pada hakikatnya yang dibutuhkan
sebenarnya adalah sebuah skill yang itu hanya dapat diperoleh dari
Organisasi-organisasi kampus, khusunya LPM Ara aita.
Dan bahkan para jurnalis
yang ada di surabaya ini didominasi lulusan dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan ini
menunjukan bahwa LPM Ara aita menjadi salah satu Lembaga Pers Mahasiswa yang
turut andil dalam perkembangan dan kemajuan Pers tanah air khususnya di Kota
Pahlawan Surabaya.
Keberhasilan atau capaian yang semacam itu tidak muncul begitu
saja, proses yang panjang dan rumit dalam berproses didalamnya membutuhkan
semangat juang yang tinggi. Bagaiamana harus menyeimbangkan antara kuliah
dengan kegiatan organisasi. Hal semacam itulah yang sering menjadi problem bagi
mahasiswa dalam berorganisasi. Lukman Hakim mantan pimpinan redaksi LPM Ara Aita
(1998-1999) yang kini menjadi dosen fakultas Dakwah dan Komunikasi, dalam
rubrik fokus majalah Ara aita edisi ke 55. Ia Mengungkapkan “hidup dikampus
menjadi aktivis adalah pilihan. Namun dengan sebagai pilihan, maka konsekuensi
akan selalu datang berdampingan. Kita harus bisa membagi waktu antara akademik
dengan organisasi.” Ungkapnya .
Hal semacam itu menggambarkan bahwa konsekuensi mahasiswa dalam
berproses akan selalu ada dan harus dihadapi, secara tidak langsung proses
tersebut akan melatih mahasiswa untuk mengembangkan ranah afektif (sikap),
psikomotorik (perilaku) dan tentunya ranah kognitif (pikiran). Maka dari itu,
alangkah sempurnanya seorang mahasiswa yang berkecimpung di dunia akademik
menjadi lebih sempurna lagi jika turut pula berkecimpung dalam dunia
organisatoris dan menjadi aktivis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar