Sabtu, 25 April 2015



Keringat dan Dilema
Lembaga Pers Mahasiswa Ara Aita sudah berumur 33 tahun, sunguh sebuah perjalanan umur yang cukup panjang. Jika kita analogikan dengan kehidupan rumah tangga seseorang mungkin sudah beranak-pinak. Lantas pertanyaannya adalah bagaimana dengan Ara Aita? Apa Ara Aita sudah mencapai target yang cita-citakan? Jawabannya tentu “belum”. mengapa demikian? karena Ara Aita bukanlah lembaga yang ingin mencapai target tertentu, Ara Aita hanya ingin memberi wadah bagi anggotanya yang suka menulis dan menjadikan anggotanya mampu menulis dengan baik dan benar, maka tidak heran jika proses didalamnya, Ara Aita benar-benar memberikan edukasi yang mengandalkan tanggung jawab bagi anggotanya untuk serius dalam berproses di dalamnya.
Tak jarang pula anggota Ara Aita yang tidak tahan dengan proses yang diberikan, mulai mengeluh dan memilih menghentikan prosesnya di Ara Aita. ibarat daun yang diterpa angin perlahan mulai berguguran satu-persatu dengan berbagai alasan, mungkin itulah sebuah seleksi alam. Terlepas dari itu semua, banyak hal yang bisa kita peroleh sebenarnya dalam suatu proses. dimanapun kita berproses dan bagaimanapun keadaannya itulah sebuah proses. Secara tidak langsung pendidikan semacam itu mengajarkan kita untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab. Hal semacam itu memberikan isyarat bagi kita pada kehidupan selanjutnya, jika nantinya kita sudah lulus dari kuliah yang tentunya banyak dari kita akan mengarungi kehidupan rumah tangga. Maka kita tidak akan terkejut melihat kehidupan baru. Karena kita sudah dididik menjadi orang yang tangguh menghadapi berbagai masalah.
Dalam psikologi komunikasi maupun komunikasi antar pribadi terdapat sebuah konsep diri agar komunikasi itu berjalan dengan lancar. Maka proses yang ada di Ara Aita yang di anggap killer, tidak humanis, bahkan cenderung dianggap tidak sosialis itu sebenarnya memberikan kita sebuah konsep diri. Konsep diri tersebut akan muncul akibat dari interaksi dan pengalaman yang pernah dilakukan. Maka jika seseorang lebih memilih untuk bertahan dan menghadapi berbagai masalah yang timbul, akan mampu menghadapi segala permasalahan yang datang dikemudian hari.
Bagi mereka yang pernah berproses di Ara Aita dan mampu bertahan hingga ia lulus kuliah, dapat memetik hasilnya. Banyak alumni dari Ara Aita yang sudah menjadi seorang jurnalis, seperti Aziz jurnalis DUTA, Rafa jurnalis TEMPO, Erliyanto jurnalis GAPURA, Taufiq jurnalis Radar Surabaya, Choliq direktur Radar Mojokerto, Hanbali jurnalis Radar Bankalan dan lain sebagainya.
Sekalipun menjadi seorang jurnalis bukan salah satu tujuan utama, akan tetapi setidaknya menjadi aktivitas mereka yang positif semasa kuliah. Anehnya, banyak dari para jurnalis yang ada di LPM Ara Aita bukan berasal dari prodi yang memiliki orientasi dalam hal keilmuan jurnalistik. Seperti Bimbingan Konseling Islam (BKI), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Prodi Psikologi dan Manajemen Dakwah (MD),. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya sumbangsih sebuah organisasi intra maupun extra yang ada di kampus, memberikan sebuah peran yang sangat besar terhadap lulusan-lulusannya. Karena pada hakikatnya yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah skill yang itu hanya dapat diperoleh dari Organisasi-organisasi kampus, khusunya LPM Ara aita.
 Dan bahkan para jurnalis yang ada di surabaya ini didominasi lulusan dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan ini menunjukan bahwa LPM Ara aita menjadi salah satu Lembaga Pers Mahasiswa yang turut andil dalam perkembangan dan kemajuan Pers tanah air khususnya di Kota Pahlawan Surabaya.
Keberhasilan atau capaian yang semacam itu tidak muncul begitu saja, proses yang panjang dan rumit dalam berproses didalamnya membutuhkan semangat juang yang tinggi. Bagaiamana harus menyeimbangkan antara kuliah dengan kegiatan organisasi. Hal semacam itulah yang sering menjadi problem bagi mahasiswa dalam berorganisasi. Lukman Hakim mantan pimpinan redaksi LPM Ara Aita (1998-1999) yang kini menjadi dosen fakultas Dakwah dan Komunikasi, dalam rubrik fokus majalah Ara aita edisi ke 55. Ia Mengungkapkan “hidup dikampus menjadi aktivis adalah pilihan. Namun dengan sebagai pilihan, maka konsekuensi akan selalu datang berdampingan. Kita harus bisa membagi waktu antara akademik dengan organisasi.” Ungkapnya .
Hal semacam itu menggambarkan bahwa konsekuensi mahasiswa dalam berproses akan selalu ada dan harus dihadapi, secara tidak langsung proses tersebut akan melatih mahasiswa untuk mengembangkan ranah afektif (sikap), psikomotorik (perilaku) dan tentunya ranah kognitif (pikiran). Maka dari itu, alangkah sempurnanya seorang mahasiswa yang berkecimpung di dunia akademik menjadi lebih sempurna lagi jika turut pula berkecimpung dalam dunia organisatoris dan menjadi aktivis.

hijabers



WANITA BERPUNUK UNTA
Penggunaan model hijab yang semakin berkembang mulai dari motif, model hingga penggunaannya yang menjulang keatas pada saat ini, memunculkan istilah baru bagi hijabers sebagai “wanita berpunuk unta”.
Berpunuk unta, kata ini mungkin tidak asing bagi kita, karena kita tahu bahwa unta memang salah satu hewan yang mempunyai punuk ditubuhnya, lantas apa jadinya jika istilah ini ditambah dengan kata “wanita”?, atau wanita berpunuk unta. Kata ini mungkin sangat ambigu bagi kita. karena relasi makna antara kata “wanita” dengan kalimat “punuk unta” dianggap sesuatu yang tidak ada hubungannya.
Istilah ini, “wanita berpunuk unta” pada masa kini sudah menjadi istilah yang sangat populer dikalangan masyarakat, khusunya kaum wanita. Istilah ini muncul seiring merkembangnya kerudung atau hijab yang biasa dipakai oleh wanita muslimah. perkembangangan hijab tersebut sangat pesat dengan berbagai jenis, motif hingga model yang sangat berfariasi. Hingga para wanita yang memakai hijab dengan model yang sedang berkembang ini di sebut para hijabers. Namun permasalahannya mengenai fenomena hijabers ini bagi sebagian kaum wanita muslimah dianggap fenomena yang melanggar ketentuan agama, karena para hijabers dianggap berlebihan dalam menggunakan sebuah hijab. Seperti yang di lontarkan Issa, seorang mahasisiwi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam fakultas dakwah dan komunikasi UINSA surabaya tersebut. Berpendapat bahwa sebenarnya tidak masalah wanita memakai hijabers, asalkan tidak berlebihan dalam memakai hijab, seperti yang biasa wanita muslimah sekarang gunakan adalah menumpuk hijab hingga keatas, karena menumpuk hijab hingga keatas itu tidak baik, dan bisa menimbulkan efek seperti punuk unta. Begitu juga ikatan rambut yang di tumpuk hingga menjulang ke atas itu akan menimbulkan efek seperti punuk unta pula. Menurutrnya agama melarang hal yang demikian.
Senada dengan Issa, Zizi mahasiswi fakultas dahwah dan komunikasi juga berpendapat bahwa ia tidak setuju dengan para hijabers yang sedang berkembang saat ini, fenomena hijabers yang sedang berkembang saat ini sangat tidak baik, ia juga mengatakan bahwa, wanita muslimah tidak diperbolehkan menggunakan hijab yang dilipat keatas hingga menyerupai punuk unta. Karena itu dilarang dalam agama. Alasan tersebut bagi Zizi bukanlah tanpa alasan, menurutnya ada sebuah hadits yang memang melarang hal yang semacam itu. Dan ia juga menambahkan bahwa berhijab yang syar’i dan sederhana itu tetap menarik, dan tetap bisa pula berseni di dalamnya.
Berbeda dengan Fryna, mahasisiwi asal Benowo, Surabaya tersebut lebih menyukai berhijab seperti yang sedang digunakan para hujabers pada saat ini, ia beralasan bahwa berhijab seperti itu membuat wanita muslimah lebih anggun, karena model hijab yang berkembang saat ini lebih banyak motifnya dan membuat dirinya lebih anggun dan lebih percaya diri. Ia juga menambahkan bahwa berhijab dengan model separti itu akan membuat aura dirinya lebih nampak dan membuat dirinya menjadi diri sendiri. Berhijab dengan mode yang demikian  bagi Fryna akan menggambarkan menjadi pribadinya sendiri. Sekalipun berhijab seperti itu bagi orang lain dianggap banyak kesulitan untuk menggunakannya, namun bagi Fryna tidak ada kesulitan apapun dalam menggunakannya.
Terlepas dari pro dan kontra penggunaan hijab bagi para hijabers saat ini, memang harus diakui bahwa perkembangan hijab pasa masa sekarang sangat pesat. Fenomena-fenomena seperti ini tidak terlepas dari perkembangan industri dan teknologi yang semakin berkembang pula. Sehingga perkembangan seperti ini membuat manusia khusunya wanita muslimah yang selalu ingin tampil menarik dan stylist, mencari cara agar wanita muslimah dapat tampil semenarik mungkin dalam berpenampilan.

Sabtu, 18 April 2015

يا مقلّب القلوب ثبّت قلبي على دينك

wahai dzat yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamamu

komunikasi penyiaran islam adalah sebuah prodi dari jurusan komunikasi yang berada dibawah naungan fakultas dakwah dan komunikasi yang ada di berbagai perguruan tinggi islam negeri maupun swasta. komunikasi dan penyiaran islam ini terdapat beberapa konsentrasi seperti publick speaking/retorika, jurnalistik dan radio-tv.